The Big Little Things

There's always something behind everything. Something big behind every little thing.

Kamis, 29 Mei 2014

Fisi(c)k (repost)

Hei-ho, aku lagi mikir nih..hehe :D

Menurut kamu, seberapa penting tampilan fisik itu?

Banyaak sekali orang yang bilang “don’t jugde a book by its cover”, tapi menurut kamu, berapa persen dari mereka yang bener-bener mengaplikasikan kalimat yang sering kali mereka ucapkan itu? Aku pribadi, pikir kalo mereka cuma sekedar ngomong. Tau kenapa? Karna mereka punya mata. :)

Yakan, yakaan?
Karna mata bekerja lebih dulu daripada otak, apalagi hati. Tanpa gambaran dari mata, otak ga akan semudah itu menjalankan pekerjaannya. Dan kalo mereka bilang kita bisa mengandalkan hati, butuh berapa lama, supaya akhirnya hati bisa memberikan keputusannya? Dan sekali lagi, mata-lah yang jadi juara ketika ada perlombaan kecepatan antar-indera dalam menilai seseorang atau sesuatu.

Ga mungkirin, mata aku juga bekerja dengan sangat baik. Otak aku juga. Dan kalau mereka bergabung, aku bakal jadi orang egois dan sombong yang sangat menyebalkan.hehe Tapi untung sekali, walaupun kadang terlambat, tapi hati aku seringkali bisa menguasai mata dan otak yang kadang punya penilaian ga baik.

Tau kenapa?
Satu hal ajah : Karna aku ga suka penilaian fisik.

Inferiority yang memang aku idap entah dari kapan inilah yang seringkali bikin aku berkaca, dan berhenti menilai fisik seseorang.

Punya idola itu wajar banget, kan? Tapi seriously, ga pernah terlintas di kepala aku buat menjadikan mereka sebagai patokan fisik seseorang yang spesial buat aku.

Dan ga bisa dipungkirin, kalo setiap orang juga mengandalkan kerja mata dalam penilaian pertama mereka, kan?
Pikiran itulah, yang mau-ga-mau ada di kepala aku. Dan bikin aku sedikit jengah, sambil lalu memutuskan menilai fisik aku terlebih dulu, sebelum mereka membicarakan penilaiannya ke aku. Sifat yang jelek banget, yah?hehe

Dan lagi-lagi aku ngomong panjang lebar,berasumsi, sambil akhirnya lupa, kalo aku sendiri manggil kamu kurus. hehe :D

Tapi seriously, kurus itu udah kaya nama buat kamu. Gada penilaian fisik di dalamnya. Karna gimanapun kamu, bukan fisik yang aku liat.

Toh komunikasi kita selama ini tidak mengandalkan alat yang memberikan peluang bagi mata buat memberikan penilaiannya, kan?

Dan aku suka begini. Karna bagaimanapun, fisik pasti berubah. Tapi isi kepala dan sikap-sifat, bukan sesuatu yang semudah itu dirubah. :)

OlehDan,
18012012

Sabtu, 01 Maret 2014

As You Wished

Apa yang terjadi saat ini, persis seperti apa yang selalu kamu minta, kan?

Kalau dulu selalu aku abaikan, karna kupikir we worth it, tapi kalau memang jalannya, toh akhirnya keinginanmu terwujudkan.

Bahagiakah?
Atau menyesal?

Kalau menyesal yang akan kamu katakan, maaf saja, akan kututup rapat-rapat telinga ini, persis seperti dulu, ketika ada sedikit saja kerikil yang mengganjal lalu kamu utarakan keinginanmu. Kututup rapat telingaku, dan terus berjuang.

Tidak akan ada yang tahu, bahkan kamupun pasti tidak tahu seberapa aku berjuang, menangis, memaafkan, lalu menangis dan terus berjuang.

Tapi Tuhan, yang tanpa kuberitahupun selalu mengerti, sepertinya tahu bahwa di dalam, aku lelah.

Tidak ada yang tahu, bahkan kamupun tidak tahu, seberapa besar aku berusaha membuatmu tersenyum, tapi yang kudapat hanya keluhan. Atau mungkin kritikan.

Ingin menangis, karna rasanya selain aku, bahkan semestapun tidak mendukung.

Kalau mereka bilang cinta itu buta, kini akhirnya bisa kuamini.

Kalau saja kamu tahu, seberapa banyak aku merangkai kata, meminta mereka mendukungku membuatmu tersenyum.

Tapi tetap saja tidak ada senyum di wajahmu, malah helaan nafas dan tarikan amarah yang kudapat dari mereka, atas usaha sia-siaku untuk kamu.

Mereka bilang, 'kebaikan'ku tak masuk akal.

Aku sabar, tapi akhirnya mereka bilang kalau aku pasti lelah. Jika bukan aku, maka hatiku.

Dan benar saja

Terlalu banyak kah, kalau dulu pintaku cuma satu, cuma ingin kamu juga ikut berjuang, seperti aku, untuk kita?

Bukan menyerah, berbalik arah, ketika sedikit saja tersandung masalah.

Aku juga bukan putri yang selalu ditandu hingga tak pernah sekalipun tersandung kerikil.

Aku tersandung beberapa kali, terjatuh, terjerembap, berdarah, tapi aku bangkit untuk berjuang, karna bagiku (dulu) kamu layak.

Aku tidak pernah berhenti berjuang, tidak seperti kamu yang selalu memintaku mundur.

Kamu bilang, aku tidak akan kuat mlaluinya, jadi kamu minta aku berhenti. Kamu terlalu takut aku akan lelah.

Salahkah, kalau saat itu yang aku inginkan justru kamu genggam tanganku, dan temani aku untuk terus berjuang?

Hingga kalau nanti aku terjatuh, ada kamu yang akan membantuku berdiri. Kalau nanti aku berdarah, ada kamu yang membantu membalut lukaku.

Bukan kamu yang meminta aku berhenti, agar aku tidak terjatuh BILA nanti TERNYATA ada krikil yang menghadang.

Dan kini aku berhenti.

Persis seperti yang selalu kamu minta.

Puaskah kamu?

Dan satu hal, lelaki, yang harus kamu tahu :

...bila harus, meski akan terjatuh, aku akan berjuang. Tapi bila nanti aku berhenti, tidak akan kuulangi jalan yang sama. Akan kuputar arah, dan temukan jalan lainnya. Karna mengulang berjuang di jalan di mana aku pernah terjerembap hanya akan membuatku mengulang kesalahan yang sama.

Dan semoga kamu bahagia dengan apa yang selalu kamu pinta, hey lelaki.