The Big Little Things

There's always something behind everything. Something big behind every little thing.

Sabtu, 01 Maret 2014

As You Wished

Apa yang terjadi saat ini, persis seperti apa yang selalu kamu minta, kan?

Kalau dulu selalu aku abaikan, karna kupikir we worth it, tapi kalau memang jalannya, toh akhirnya keinginanmu terwujudkan.

Bahagiakah?
Atau menyesal?

Kalau menyesal yang akan kamu katakan, maaf saja, akan kututup rapat-rapat telinga ini, persis seperti dulu, ketika ada sedikit saja kerikil yang mengganjal lalu kamu utarakan keinginanmu. Kututup rapat telingaku, dan terus berjuang.

Tidak akan ada yang tahu, bahkan kamupun pasti tidak tahu seberapa aku berjuang, menangis, memaafkan, lalu menangis dan terus berjuang.

Tapi Tuhan, yang tanpa kuberitahupun selalu mengerti, sepertinya tahu bahwa di dalam, aku lelah.

Tidak ada yang tahu, bahkan kamupun tidak tahu, seberapa besar aku berusaha membuatmu tersenyum, tapi yang kudapat hanya keluhan. Atau mungkin kritikan.

Ingin menangis, karna rasanya selain aku, bahkan semestapun tidak mendukung.

Kalau mereka bilang cinta itu buta, kini akhirnya bisa kuamini.

Kalau saja kamu tahu, seberapa banyak aku merangkai kata, meminta mereka mendukungku membuatmu tersenyum.

Tapi tetap saja tidak ada senyum di wajahmu, malah helaan nafas dan tarikan amarah yang kudapat dari mereka, atas usaha sia-siaku untuk kamu.

Mereka bilang, 'kebaikan'ku tak masuk akal.

Aku sabar, tapi akhirnya mereka bilang kalau aku pasti lelah. Jika bukan aku, maka hatiku.

Dan benar saja

Terlalu banyak kah, kalau dulu pintaku cuma satu, cuma ingin kamu juga ikut berjuang, seperti aku, untuk kita?

Bukan menyerah, berbalik arah, ketika sedikit saja tersandung masalah.

Aku juga bukan putri yang selalu ditandu hingga tak pernah sekalipun tersandung kerikil.

Aku tersandung beberapa kali, terjatuh, terjerembap, berdarah, tapi aku bangkit untuk berjuang, karna bagiku (dulu) kamu layak.

Aku tidak pernah berhenti berjuang, tidak seperti kamu yang selalu memintaku mundur.

Kamu bilang, aku tidak akan kuat mlaluinya, jadi kamu minta aku berhenti. Kamu terlalu takut aku akan lelah.

Salahkah, kalau saat itu yang aku inginkan justru kamu genggam tanganku, dan temani aku untuk terus berjuang?

Hingga kalau nanti aku terjatuh, ada kamu yang akan membantuku berdiri. Kalau nanti aku berdarah, ada kamu yang membantu membalut lukaku.

Bukan kamu yang meminta aku berhenti, agar aku tidak terjatuh BILA nanti TERNYATA ada krikil yang menghadang.

Dan kini aku berhenti.

Persis seperti yang selalu kamu minta.

Puaskah kamu?

Dan satu hal, lelaki, yang harus kamu tahu :

...bila harus, meski akan terjatuh, aku akan berjuang. Tapi bila nanti aku berhenti, tidak akan kuulangi jalan yang sama. Akan kuputar arah, dan temukan jalan lainnya. Karna mengulang berjuang di jalan di mana aku pernah terjerembap hanya akan membuatku mengulang kesalahan yang sama.

Dan semoga kamu bahagia dengan apa yang selalu kamu pinta, hey lelaki.